Cegah Bullying Sejak Dini, Mahasiswa KKN UMM Edukasi Siswa SDN 1 Banjarejo Donomulyo

Tampak mahasiswa KKN kelompok 153 UMM foto bersama siswa SDN 1 Banjarejo.
BANJAREJO – kasus perundungan (bullying) di jenjang sekolah dasar hingga
kini masih menjadi persoalan yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan data dari
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tercatat sekitar 70% siswa di Indonesia
pernah mengalami tindakan bullying. Angka tersebut memperlihatkan bahwa
lingkungan sekolah, yang idealnya menjadi tempat tumbuh kembang anak secara
aman dan nyaman, ternyata masih menyimpan risiko kekerasan yang dapat
mengganggu kesejahteraan psikologis maupun sosial peserta didik.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 153 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiatif mengadakan kegiatan edukasi bertema anti-bullying dengan mengusung judul “Sayang Teman, Stop Bullying”. Kegiatan ini menyasar siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 di SDN 1 Banjarejo, yang berlokasi di Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo.
Ketika Anak Tak Sadar Sedang Dirundung atau Merundung
Bullying merupakan tindakan kekerasan yang
dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja oleh individu atau kelompok
terhadap orang lain baik melalui tindakan fisik maupun verbal. Perilaku
tersebut dapat terjadi secara berulang dan dalam bentuk yang beragam bentuknya,
sehingga dampak yang ditimbulkan dapat semakin besar apabila dibiarkan
berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Anak usia sekolah dasar masih berada
pada tahap perkembangan yang membuat mereka masih rentan terlibat dalam bullying,
baik sebagai korban, pelaku, maupun saksi.
Secara umum bullying dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu bullying
fisik, bullying verbal, cyberbullying, bullying sosial,
dan bullying seksual. Bullying fisik dan verbal merupakan bentuk
yang paling mudah dikenali karena bersentuhan langsung atau berupa ucapan yang
dapat menyakiti korban, sedangkan bullying sosial berupa tindakan
mengucilkan atau mengisolasi seseorang dari kelompok pertemanan. Bullying
seksual dapat mencakup pelecehan atau komentar dengan topik tentang seksual
yang merendahkan korban, sementara cyberbullying merupakan bentuk
perundungan yang terjadi melalui alat elektronik dan platform media sosial.
Kelima jenis ini menjadi materi utama yang disampaikan pada kegiatan edukasi
anti bullying, dengan tujuan supaya siswa mampu mengenali berbagai bentuk
bullying yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar mereka, baik secara
langsung maupun melalui media digital.
Perilaku bullying dapat memberikan dampak yang cukup serius
terhadap perkembangan anak-anak. Anak yang menjadi korban bullying dapat
mengalami kecemasan, kurang percaya diri, sulit bergaul, memilih untuk
menyendiri, hingga mengalami penurunan prestasi belajar. Selain itu, bullying
juga dapat menyebabkan anak merasa tertekan, tidak ingin pergi sekolah,
gangguan tidur, serta kesulitan dalam bergaul dan berinteraksi dengan orang
lain. Tanpa penanganan yang baik, dampak bullying dapat memberikan
pengaruh buruk terhadap perkembangan anak dalam jangka panjang.
Salah satu akar
permasalahan yang membuat bullying masih terus terjadi adalah kurangnya
pemahaman siswa terhadap perilaku tersebut. Tidak jarang anak mengalami atau
melakukan suatu tindakan tanpa menyadari bahwa hal tersebut sudah termasuk ke
dalam perilaku bullying karena belum memahami jenis maupun dampaknya
secara utuh. Korban bullying verbal dan fisik seringkali baru menyadari
dirinya telah dirundung setelah merasakan dampaknya secara langsung, seperti
hilangnya rasa percaya diri dan munculnya rasa cemas terhadap lingkungan
sekitar. Kondisi inilah yang membuat edukasi sejak usia sekolah dasar menjadi
langkah penting dalam upaya pencegahan supaya siswa dapat memahami pengertian,
jenis, dampak, sekaligus cara mencegah dan menghadapi bullying.
Berdasarkan kondisi tersebut, mahasiswa KKN turut
berupaya dalam mencegah dan mengurangi bullying melalui kegiatan
pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu memberikan
edukasi tentang bullying kepada siswa sekolah dasar. Kegiatan ini
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai bullying,
sehingga mereka dapat memahami dan menghindari perilaku tersebut. Selain itu,
kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman,
nyaman, dan dipenuhi dengan sikap saling menghargai.

Mahasiswa KKN 153 UMM menunjukkan sticky notes siswa SDN 1 Banjarejo.
Materi, Video,
dan Sticky Notes: Cara Mahasiswa KKN Mendekati Siswa
Kegiatan edukasi
dilaksanakan pada tanggal 21 Agustus 2026 mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB,
yang berlokasi di SDN 1 Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Pada
kegiatan edukasi ini sasaran pesertanya yaitu siswa kelas 4, 5, dan 6 SDN 1
Banjarejo dengan total jumlah peserta 43 siswa. Sebelum merancang materi
edukasi, kelompok KKN 153 melakukan koordinasi dengan pihak sekolah untuk
menentukan waktu pelaksanaan, sasaran peserta, dan menyesuaikan materi yang
sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar serta situasi yang sedang
dihadapi saat ini. Untuk mengukur efektivitas kegiatan edukasi, digunakan
pendekatan kuantitatif melalui kuesioner pre-test dan post-test. Pre-test
diberikan sebelum dilakukannya edukasi yang bertujuan untuk mengetahui
pemahaman awal para siswa dengan bentuk pertanyaan diantaranya seperti, apakah
memukul atau mendorong teman termasuk bullying, dan apa saja dampak dari
perilaku tersebut. Setelah penyampaian materi, post-test yang berupa
pertanyaan diberikan untuk melihat perubahan pemahaman para siswa
terkait perilaku yang tepat ketika mengalami bullying.
Penyampaian materi yang dilakukan dengan metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan video edukatif digunakan sebagai media agar dapat memperkuat pemahaman terhadap siswa. Selain itu, siswa juga diajak berperan secara aktif dengan menuliskan pengalaman pribadi terkait perilaku bullying yang pernah dialami baik sebagai korban maupun pelaku di atas sticky notes secara anonim. Metode ini digunakan sebagai salah satu upaya untuk memberikan ruang bagi siswa agar dapat mengungkapkan perasaan atau menceritakan pengalaman mereka tanpa ada rasa takut identitasnya diketahui. Data kegiatan edukasi kemudian dikumpulkan melalui tiga cara yaitu observasi terhadap perilaku dan respon para siswa selama kegiatan edukasi berlangsung, sesi tanya jawab yang diajukan oleh pemateri kepada para siswa untuk mengetahui pemahaman terhadap materi yang sudah disampaikan, serta penulisan pengalaman atau perasaan pada sticky notes yang ditulis secara anonim.
Antusiasme Siswa
dan Respons Lingkungan Sosial
Kegiatan berjalan
dengan lancar dan dalam suasana yang kondusif berkat dukungan penuh dari pihak
sekolah, sehingga program ini dapat terintegrasi langsung dengan aktivitas
pembelajaran di sekolah. Selama acara berlangsung, siswa menunjukkan semangat
yang tinggi, aktif mendengarkan materi, menjawab pertanyaan, dan berpartisipasi
dalam diskusi bersama mahasiswa KKN. Keberanian siswa juga tampak saat
membagikan pengalaman pribadi atau sosial yang pernah dialami, baik di sekolah
maupun di rumah, menandakan bahwa kegiatan ini berhasil menciptakan lingkungan
belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk berbagi.
Yang paling
mencolok, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman dalam membedakan antara
candaan biasa dan perilaku yang sudah termasuk bullying. Sebagian dari mereka
tampak lebih peka terhadap kondisi sekitar dan lebih berhati-hati dalam
bersikap kepada teman. Rasa empati mulai tumbuh, terlihat dari cara mereka
mendengarkan cerita teman dan menunjukkan perhatian terhadap perasaan orang
lain selama sesi berbagi cerita. Mereka juga mulai memahami perbedaan antara
bullying verbal, fisik, cyberbullying, sosial, dan seksual serta menyadari
bahwa suatu tindakan dapat dikategorikan sebagai bullying jika membuat orang
lain merasa tidak nyaman, malu, takut, atau terluk.
Lebih dari
Sekedar Sosialisasi
Bagi mahasiswa
KKN, pelaksanaan edukasi anti-bullying
dapat dipandang sebagai bentuk intervensi preventif yang bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai perundungan di lingkungan
sekolah dasar. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada penyampaian
informasi, tetapi juga diarahkan pada pembentukan pemahaman siswa mengenai
pengertian, bentuk, faktor penyebab, serta dampak bullying. Pemahaman
tersebut diharapkan dapat membantu siswa mengidentifikasi perilaku yang
termasuk perundungan dan memahami konsekuensi yang dapat ditimbulkannya bagi
korban maupun lingkungan sekolah. Dengan demikian, edukasi anti-bullying menjadi
salah satu langkah awal dalam membangun kesadaran siswa untuk menciptakan
lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menghargai setiap individu.
Keterlibatan aktif
siswa melalui diskusi, tanya jawab, dan berbagai kegiatan interaktif dapat
membuat proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan menarik. Kegiatan tersebut
juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat, sehingga
mereka tidak hanya menerima informasi secara pasif. Pendekatan ini membantu
siswa mengenali berbagai contoh bullying yang dapat terjadi dalam
kehidupan sehari-hari serta memahami dampaknya terhadap kondisi sosial dan
emosional korban. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN tidak hanya berperan
sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu siswa
memahami pentingnya membangun hubungan yang baik dengan teman sebaya.
Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa dan metode yang disesuaikan dengan
usia serta tingkat pemahaman siswa
Program edukasi
anti-bullying memiliki peran penting dalam mendukung terciptanya
lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan positif bagi siswa. Pencegahan bullying
tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah, tetapi juga membutuhkan peran
aktif dari siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Pelaksanaan edukasi secara
berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bersama mengenai
pentingnya mencegah perundungan. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi langkah
awal dalam membangun budaya sekolah yang mendorong sikap saling menghargai,
peduli, dan menghormati antar warga sekolah.
Catatan Penting
dari Sesi Berbagi Cerita
Program edukasi
yang dilakukan oleh Kelompok 153 KKN Berdampak UMM di SDN 1 Banjarejo secara
umum berhasil meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai dampak
perundungan serta cara menghadapinya di lingkungan sekolah. Sekarang siswa bisa
mengenali dan membedakan berbagai jenis perundungan seperti perundungan verbal,
fisik, sosial, cyberbullying, serta perundungan seksual. Namun dibalik
hasil yang baik tersebut, terdapat hal yang perlu diperhatikan bersama dalam
sesi menulis pengalaman menggunakan sticky notes, terungkap bahwa
sebagian besar siswa pernah mengalami perundungan, baik di sekolah maupun
diluar sekolah. Sesi berbagi cerita ini menjadi tempat yang nyaman bagi siswa
untuk mengungkapkan pengalaman emosional yang mungkin sebelumnya belum pernah
mereka bagikan.
Temuan ini
menunjukkan bahwa hasil dari kegiatan ini baru mulai menjadi dasar pertama
untuk menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang nyaman, menyenangkan
bagi anak - anak, dan bebas dari sikap meremehkan atau merugikan orang lain.
Karena bullying juga sering terjadi di luar sekolah, diperlukan kerja
sama dan partisipasi aktif dari guru serta orang tua untuk terus mengawasi
interaksi sosial anak secara terus - menerus, serta memberikan dukungan
emosional kepada siswa yang pernah mengalami perundungan. (penulis: mahasiswa kkn kelompok 153 umm)
Komentar
Posting Komentar